Selasa, 09 Desember 2008

SIAPAKAH DAYAK???



Dayak bukanlah sebuah realitas objektif yang kuno, melainkan sebuah konstriuksi yang relatif modern. Kalangan ilmiawan, para antropolog, telah memberikan kontribusi yang berarti dalam pembentukan identitas Dayak, baik pada masa kolonial maupun pasca kolonial.

Istilah “Dayak” secara kolektif menunjukan kepada orang – orang non-Muslim atau non-Melayu yang merupakan penduduk asli
Kalimantan pada umumnya (lihat King, 1993).istilah itu sendiri muncul pada akhir abad sembilan belas dalam konteks pendudukan dan penguasaan kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan (lihat Rousseau, 1990). Mernurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan
Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian si atas pada tahun 1895 (1995/1996:109).

Arti dari kata “Dayak” itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, “Dayak” berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman.
Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai (Commans, 1987:6). Dengan nada serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tanjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai (1993:4). Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjukan pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat , gagah, berani, dan ulet (Lahajir et al., 1993:4). Lahajir et a., mencatat setidaknya ada empat istilah untuk penduduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu: Daya’. Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka cebagai “Dyak” (Lahajir et al., 1993:3).
Dayak mempunyai sekitar 450 subsuku yang tersebar di seluruh Kalimantan (lihat, misalnya, Ukur, 1992:27). Ada banyak versi tentang kelompok-kelompok suku tersebut. Riwut (1958) menyatakan bahwa orang Dayak terdiri dari duabelas suku, dan setiap sukunya terdiri dari tujuh subsuku. Kennedy (19974) membagi Dayak menjadi enam kelompok: Kenyah-Kayan-Bahau, Ngaju, Dayak Darat, Klemantan-Murut, Iban, dan Punan. Lahajir et al (1993) yakin bahwa pada mulanya semua subsuku tersebut adalah bagian dari kelompok yang sama, tetapi karena proses geografi dan demografi yang berlangsung secara lebih dari seribu tahun, kelompok ini menjadi terpecah-pecah. Masih ada kesamaan-kesamaan, yang diakibatkan oleh asal usul yang sama, yaitu dari Propinsi Yunnan. Senada dengan Lahajir, Ukur juga berpendapat bahwa meskipun terdapat sejumlah perbedaan diantara suku-suku tersebut, Dayak mempunyai banyak kesamaan sehingga ada kemungkinan untuk mengkaji kebudayaan Dayak sebagai suatu kesatuan (Ukur, 1992:27-28). Ada sejumlah kesamaan yang signifikan di antra orang-orang Dayak, kecuali suku Punan yang memang lebih nomadik, dalam hal yang lebih berkaitan dengan fakta bahwa mereka tinggal di rumah-rumah panjang, menggunakan parang (mandau) dan sumpit, memproduksi keranjang-keranjang rotan, menggunakan manik-manik dalam ritual-ritual mereka, melakukan pertanian, dengan sistem ladang berpindah, dan dalam hal pertunjukan tari-tarian dalam ritual mereka (lihat, misalnya, Ukur, 1991; Widjono, 1998).
(dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar: